Klise dari-MU
Di kala cita dan
cinta membayang, alam membias di pelupuk mata, hingga akhirnya terpaku pada
suatu tempat yang telah digariskan oleh sang Mahacinta. Kemilau syahdunya jejak
langkah kaki seorang insan yang terhubung menjadi sebuah harmoni Ilahi yang
sulit ditafsirkan oleh siapapun manakala tak saling merasakan betapa besar
anugerahNYA. Klise itulah yang menghampiri hari-hari Habibah, dia adalah
seorang anak gadis yang begitu sulit untuk memahami sesuatu, terutama hal
agama. Maklum ia besar di lingkungan yang kurang agamis dan penuh hiruk pikuk
rayuan dunia fana. Sejak lulus sekolah dasar Ia pergi merantau dari desanya
untuk memperoleh pendidikan yang baik, hingga akhirnya Ia diterima di salah
satu sekolah menengah pertama yang notabenya nomor satu di daerahnya. Namun,
ketika Ia beranjak ke sekolah menengah atas, Ia merasa sangat kurang mengenai
hal agama. Sempat ketika kecil ia ikut majlis al-qur’an, sehingga Ia bisa
belajar iqra, berlatih khitobah, dan beberapa amalan yang sampai sekarang masih
habibah ingat. Pernah juga Ia meminta kepada Ibunya untuk nyantri setelah SMP, tetapi ibunda
Habibah menolak, beliau takut anak gadisnya tak ada yang mengontrol. Tanda itu
tak sejalan dengan pemikiran Habibah, kenapa Ibundanya boleh ketika habibah diterima
di SMP terbaik di daerahnya? Yang jaraknyapun juga jauh?.............akhirnya
garis Tuhan mentikkan kembali kepada Habibah untuk menuntut ilmu kembali di SMA umum, ya SMA itu
mungkin nomer dua di daerahnya. Terbesit raut kecewa wajah Habibah dikala itu,
tetapi Ia yakin suatu saat Ia akan menjadi yang terbaik. Memang, mata pelajaran
annisaiyah yang sedikit Ia tau dulu, kini akhirnya Ia hanya mendapatkan
pelajaran agama dan biologi secara umum, tetapi Ia yakin keimanan seseorang
bukan diukur dari mendapatkan mata pelajaran yang satu dan yang lain melainkan
prinsip yang akan menjadikan pondasi untuk meraih masa depan cita dan cinta.
Berulang-ulang hingga sampai di ujung penghabisan masa SMA, sehingga
sayup-sayup angin kehidupan membawanya ke kancah universitas negeri, meskipun
sebenarnya universitas itu bukanlah pilihan Habibah pada mulanya, tetapi Ia
tetap bersyukur karena Ia percaya harmoni Ilahi lebih baik dari haromoninya
sendiri. Bukanlah baik buruknya suatu tempat yang menjadi momok keberhasilan
seseorang melainkan bagaimana seseorang itu mampu terlahir menjadi pribadi yang
kokoh karena belajar dari tempat itu. Suatu ketika setelah perhelatan
pendidikan menghantui Habibah, di saat itu
juga di suatu tempat Ia bertemu dengan seseorang, sebut saja Habibi. Entah, apa
yang telah dialunkan oleh nyanyian takdir. Ketika itu, Habibi memakai kemeja
krem berdiri tepat di depan pandangan Habibah. Pernah Ia berharap ingin
mengetahui siapa pemuda itu, tetapi Ia hanya diam dan bertanya pada dirinya
sendiri “inikah ujian bagiku Ya Robb?”.
Hari demi hari di tempat itu Ia lewati, dan ternyata harmoni Ilahi menitikkan
kembali sesuatu yang tersembunyi. Ia akhirnya mengetahui pemuda itu, sangat
spele memang, mereka dipertemukan dalam sebuah kepanitiaan acara. Sebelum
saling mengetahui, Habibah sudah bisa menebak pemuda ini sepertinya pemuda baik
dan pintar, dan pastinya taat kepada Allah. Habibah yang ceplas ceplos seketika
menjadi sering memikirkan peristiwa saat itu. Tetapi, hari-hari di tempat itu
Ia lamapaui dengan biasa saja, hanya bergeming pada dirinya sendiri. Ia tak mau
menggores yang telah ditakdirkan oleh sang Mahakuasa kepadanya. Tetapi pernah
Ia menuliskan sesuatu untuk Habibi, yang merupakan imajinasi yang bercampur
mimpi, tapi tulisan itupun hanya ia simpan di kotak kecil di lemari belajarnya.
Samapi-sampai surat itu baru terbaca kembali olehnya ketika Ia menata
benda-benda yang akan dibawanya merantau kembali. Isi surat itupun membuat
Habibah tertegun kembali dengan kenangan-kenangan yang telah lalu, dengan pelan
Ia buka kembali surat itu dan membacanya perlahan.....
“sungguh ketika pertama aku melihatmu, tak terbesit sedikitpun
kata untuk aku mengenalmu, aku berfikir kau hanya ilkan yang telah ditayangkan
olehNYA dipelupuk mataku persis ketika aku menonton televisi.kau hanya diam
terpaku, tak tau siapa diriku. Kau tau ketika aku sudah mengenalimu, ternyata
kau begitu baik padaku, walau sempat kau sampaikan padaku tentang salam dari
temanmu untukku yang membuatku sedikit kecewa. Aku kagum padamu karena Allah
telah memberiku kesempatan untuk berbincang banyak denganmu, aku memang
bukanlah seorang gadis yang berkerudung besar, tak mengerti banyak tentang
agama. Bahkan aku penah menjadi anak tomboy yang dulunya sempat tak mau memakai
jilbab. Ada kesan banyak ketika Allah memberiku jalan untuk mengenalimu.
Astaghfirullah, maafkan aku Habibi, bukan maksud aku menjadi syetan yang akan
mengotori fikiranmu, aku yakin kau pemuda yang yang di cintai Allah, kau begitu
merendah dihadapaNYA, dan akupun sangat malu kepadaNYA ketika sempat aku
berbincang denganmu, dan kau menundukkan kepala. Maafkan aku jika aku pernah
mengagumimu, bahkan aku berharap kepadaNYA agar kita dipertemukan kembali, agar
aku dapat berbagi kembali denganmu, namun, jika saat ini bidadarimu yang elok
telah bersanding denganmu, sampaikan maafku untuknya. aku tidak bermaksud menaburi
bumbu kecut ke dalam rona indah hidupmu, karena ku mengerti imajinasi itu bisa
bercampur dengan mimpi, mimpi akan indah jika di dalamnya seorang insan
mendapatkan peran baik, begitupun sebaliknya. Satu lagi Habibi, kilauan batu
intan selalu terpancar warna pelangi, mejikuhibiniu menjadi paduan warna yang telah
memberi kesan menarik untuk batu intan itu. Aku mengerti, layaknya juga hidup
ini. Kau telah memberi warna jingga pada hidupku, terimakasih Habibi, semoga
Allah selalu melindungi dan menyayangimu. Amiiin Ya Robbal Alamiin.”
Habibah hanya
tersenyum tipis lalu meneteskan air mata ketika membaca surat itu kembali.
Waktu itu angin malam yang menemani di kala Ia menuliskannya, berbisik pelan
seakan memaksa Habibah untuk segera memberikan surat itu kepada Habibi. Tapi
niat itu diurungkannya karena Ia takut, perjalanan cita dan cintanya tak di
ridhoi olehNYA, jelas Ia kurang bersyukur dan menjaga hawa nafsunya. Lalu lamat-lamat
Ia membuka kembali kotak kecil di meja belajarnya dan memasukkan surat itu
kembali kedalamnya. Ia bergumam “skenario Allah adalah yang terbaik, apapun
itu”. Bersama desiran jangkrik yang berdesir, Habibah akhirnya tertidur dengan
segala cerita di hidupnya. Mencoba menjadi yang terbaik dimanapun Ia berada.
#wallahu’alam bissowwab J _AHA_
By: Ratih Hidayah

0 comments: