6:57 AM hidayahratih.blogspot.com 0 Comments

Klise dari-MU
            Di kala cita dan cinta membayang, alam membias di pelupuk mata, hingga akhirnya terpaku pada suatu tempat yang telah digariskan oleh sang Mahacinta. Kemilau syahdunya jejak langkah kaki seorang insan yang terhubung menjadi sebuah harmoni Ilahi yang sulit ditafsirkan oleh siapapun manakala tak saling merasakan betapa besar anugerahNYA. Klise itulah yang menghampiri hari-hari Habibah, dia adalah seorang anak gadis yang begitu sulit untuk memahami sesuatu, terutama hal agama. Maklum ia besar di lingkungan yang kurang agamis dan penuh hiruk pikuk rayuan dunia fana. Sejak lulus sekolah dasar Ia pergi merantau dari desanya untuk memperoleh pendidikan yang baik, hingga akhirnya Ia diterima di salah satu sekolah menengah pertama yang notabenya nomor satu di daerahnya. Namun, ketika Ia beranjak ke sekolah menengah atas, Ia merasa sangat kurang mengenai hal agama. Sempat ketika kecil ia ikut majlis al-qur’an, sehingga Ia bisa belajar iqra, berlatih khitobah, dan beberapa amalan yang sampai sekarang masih habibah ingat. Pernah juga Ia meminta kepada Ibunya untuk  nyantri setelah SMP, tetapi ibunda Habibah menolak, beliau takut anak gadisnya tak ada yang mengontrol. Tanda itu tak sejalan dengan pemikiran Habibah, kenapa Ibundanya boleh ketika habibah diterima di SMP terbaik di daerahnya? Yang jaraknyapun juga jauh?.............akhirnya garis Tuhan mentikkan kembali kepada Habibah untuk  menuntut ilmu kembali di SMA umum, ya SMA itu mungkin nomer dua di daerahnya. Terbesit raut kecewa wajah Habibah dikala itu, tetapi Ia yakin suatu saat Ia akan menjadi yang terbaik. Memang, mata pelajaran annisaiyah yang sedikit Ia tau dulu, kini akhirnya Ia hanya mendapatkan pelajaran agama dan biologi secara umum, tetapi Ia yakin keimanan seseorang bukan diukur dari mendapatkan mata pelajaran yang satu dan yang lain melainkan prinsip yang akan menjadikan pondasi untuk meraih masa depan cita dan cinta. Berulang-ulang hingga sampai di ujung penghabisan masa SMA, sehingga sayup-sayup angin kehidupan membawanya ke kancah universitas negeri, meskipun sebenarnya universitas itu bukanlah pilihan Habibah pada mulanya, tetapi Ia tetap bersyukur karena Ia percaya harmoni Ilahi lebih baik dari haromoninya sendiri. Bukanlah baik buruknya suatu tempat yang menjadi momok keberhasilan seseorang melainkan bagaimana seseorang itu mampu terlahir menjadi pribadi yang kokoh karena belajar dari tempat itu. Suatu ketika setelah perhelatan pendidikan menghantui Habibah,  di saat itu juga di suatu tempat Ia bertemu dengan seseorang, sebut saja Habibi. Entah, apa yang telah dialunkan oleh nyanyian takdir. Ketika itu, Habibi memakai kemeja krem berdiri tepat di depan pandangan Habibah. Pernah Ia berharap ingin mengetahui siapa pemuda itu, tetapi Ia hanya diam dan bertanya pada dirinya sendiri  “inikah ujian bagiku Ya Robb?”. Hari demi hari di tempat itu Ia lewati, dan ternyata harmoni Ilahi menitikkan kembali sesuatu yang tersembunyi. Ia akhirnya mengetahui pemuda itu, sangat spele memang, mereka dipertemukan dalam sebuah kepanitiaan acara. Sebelum saling mengetahui, Habibah sudah bisa menebak pemuda ini sepertinya pemuda baik dan pintar, dan pastinya taat kepada Allah. Habibah yang ceplas ceplos seketika menjadi sering memikirkan peristiwa saat itu. Tetapi, hari-hari di tempat itu Ia lamapaui dengan biasa saja, hanya bergeming pada dirinya sendiri. Ia tak mau menggores yang telah ditakdirkan oleh sang Mahakuasa kepadanya. Tetapi pernah Ia menuliskan sesuatu untuk Habibi, yang merupakan imajinasi yang bercampur mimpi, tapi tulisan itupun hanya ia simpan di kotak kecil di lemari belajarnya. Samapi-sampai surat itu baru terbaca kembali olehnya ketika Ia menata benda-benda yang akan dibawanya merantau kembali. Isi surat itupun membuat Habibah tertegun kembali dengan kenangan-kenangan yang telah lalu, dengan pelan Ia buka kembali surat itu dan membacanya perlahan.....
sungguh ketika pertama aku melihatmu, tak terbesit sedikitpun kata untuk aku mengenalmu, aku berfikir kau hanya ilkan yang telah ditayangkan olehNYA dipelupuk mataku persis ketika aku menonton televisi.kau hanya diam terpaku, tak tau siapa diriku. Kau tau ketika aku sudah mengenalimu, ternyata kau begitu baik padaku, walau sempat kau sampaikan padaku tentang salam dari temanmu untukku yang membuatku sedikit kecewa. Aku kagum padamu karena Allah telah memberiku kesempatan untuk berbincang banyak denganmu, aku memang bukanlah seorang gadis yang berkerudung besar, tak mengerti banyak tentang agama. Bahkan aku penah menjadi anak tomboy yang dulunya sempat tak mau memakai jilbab. Ada kesan banyak ketika Allah memberiku jalan untuk mengenalimu. Astaghfirullah, maafkan aku Habibi, bukan maksud aku menjadi syetan yang akan mengotori fikiranmu, aku yakin kau pemuda yang yang di cintai Allah, kau begitu merendah dihadapaNYA, dan akupun sangat malu kepadaNYA ketika sempat aku berbincang denganmu, dan kau menundukkan kepala. Maafkan aku jika aku pernah mengagumimu, bahkan aku berharap kepadaNYA agar kita dipertemukan kembali, agar aku dapat berbagi kembali denganmu, namun, jika saat ini bidadarimu yang elok telah bersanding denganmu, sampaikan maafku untuknya. aku tidak bermaksud menaburi bumbu kecut ke dalam rona indah hidupmu, karena ku mengerti imajinasi itu bisa bercampur dengan mimpi, mimpi akan indah jika di dalamnya seorang insan mendapatkan peran baik, begitupun sebaliknya. Satu lagi Habibi, kilauan batu intan selalu terpancar warna pelangi, mejikuhibiniu menjadi paduan warna yang telah memberi kesan menarik untuk batu intan itu. Aku mengerti, layaknya juga hidup ini. Kau telah memberi warna jingga pada hidupku, terimakasih Habibi, semoga Allah selalu melindungi dan menyayangimu. Amiiin Ya Robbal Alamiin.”
            Habibah hanya tersenyum tipis lalu meneteskan air mata ketika membaca surat itu kembali. Waktu itu angin malam yang menemani di kala Ia menuliskannya, berbisik pelan seakan memaksa Habibah untuk segera memberikan surat itu kepada Habibi. Tapi niat itu diurungkannya karena Ia takut, perjalanan cita dan cintanya tak di ridhoi olehNYA, jelas Ia kurang bersyukur dan menjaga hawa nafsunya. Lalu lamat-lamat Ia membuka kembali kotak kecil di meja belajarnya dan memasukkan surat itu kembali kedalamnya. Ia bergumam “skenario Allah adalah yang terbaik, apapun itu”. Bersama desiran jangkrik yang berdesir, Habibah akhirnya tertidur dengan segala cerita di hidupnya. Mencoba menjadi yang terbaik dimanapun Ia berada. #wallahu’alam bissowwab J _AHA_

By: Ratih Hidayah

0 comments: